PLANETGAMES. Di tengah derasnya arus industri game yang dipenuhi judul-judul besar dengan bujet raksasa, hadir sebuah kisah yang membuktikan bahwa imajinasi dan ketulusan bisa melampaui keterbatasan sumber daya. Clair Obscur: Expedition 33, sebuah RPG garapan studio indie asal Prancis, Sandfall Interactive, menjadi fenomena sejak rilis pada 24 April 2025.

Bukan sekadar karena kualitas visualnya yang menawan atau sistem gameplay yang memikat, tetapi lebih pada bagaimana kisah ini berani menyinggung luka, trauma, dan pencarian arti hidup. Dengan latar dunia yang terinspirasi era Belle Époque, game ini memadukan keindahan seni klasik dengan narasi penuh tragedi, menghadirkan pengalaman emosional yang jarang ditemukan di game modern.

Dunia Lumière, Paris dalam Bayangan Kematian

Cerita berpusat di sebuah kota bernama Lumière, dunia fantasi yang seolah mengambang dalam kabut mimpi. Kota ini cantik, namun terkutuk. Setiap tahun, sebuah ritual mengerikan bernama Gommage menghantui warganya. Seorang sosok misterius yang disebut Paintress menuliskan angka di monolit kota. Semua orang yang berusia sama dengan angka itu akan lenyap seketika, tubuhnya terhapus menjadi debu.

Bagi penduduk Lumière, hidup tidak lebih dari menghitung mundur menuju kehancuran. Maka lahirlah ekspedisi tahunan: sekelompok orang terpilih yang ditugaskan untuk mencari cara menghentikan kutukan itu. Hingga tibalah giliran ekspedisi ke-33, yang menjadi inti dari kisah game ini.

Kehilangan yang Menggores Jiwa

Kisah dimulai dengan Gustave, sang protagonis, pria gagah yang kehilangan salah satu lengannya dan menggantinya dengan lengan mekanik. Dalam sebuah festival tahunan, kebahagiaan warga seharusnya berpadu dengan doa, namun Paintress datang membawa malapetaka. Sophie, kekasih Gustave, menjadi salah satu korban Gommage, lenyap tepat di depan matanya.

Adegan ini bukan sekadar pemantik cerita, melainkan luka yang mendorong Gustave dan adiknya, Maelle, untuk bergabung dalam ekspedisi. Motivasi mereka sederhana namun menyayat: ingin menghentikan penderitaan agar tidak ada lagi orang yang harus merasakan kehilangan serupa.

Ekspedisi 33 Petualangan Penuh Pertemuan dan Perpisahan

Perjalanan ekspedisi tidaklah mulus. Di Act I, serangan misterius membuat hampir semua anggota ekspedisi tewas, hanya menyisakan Gustave, Maelle, dan Lune. Dari titik inilah perjalanan mereka benar-benar dimulai.

Dalam perjalanannya, mereka bertemu berbagai karakter yang memberi warna pada kisah. Ada Curator, sosok yang seolah tahu banyak rahasia; Sciel dan Esquie, makhluk penuh keceriaan yang menghadirkan humor di tengah duka. Esquie khususnya menjadi ikon tersendiri seekor makhluk kecil yang selalu bersorak dengan kata-kata sederhana, namun mampu menyalakan kembali semangat ketika semua terasa gelap.

Di Act II, cerita kian kompleks. Karakter baru bernama Verso bergabung, membawa teka-teki masa lalu. Ia bukan sekadar orang asing, melainkan manifestasi dari catatan imajiner yang pernah ada di ekspedisi terdahulu. Fakta mengejutkan mulai terbuka, termasuk identitas Maelle sebagai anak dari sang Paintress sendiri.

Tragedi yang Menghantam Hati Pemain

Momen paling menggetarkan hadir ketika Gustave tokoh utama yang sejak awal menjadi pusat cerita tiba-tiba tewas di tangan sosok misterius. Kejadian ini diletakkan di tahap awal permainan, seolah menarik karpet dari bawah kaki pemain.

Kematian Gustave bukan sekadar kejutan naratif, melainkan pukulan emosional yang mendefinisikan arah cerita. Pemain dipaksa untuk merasakan kehilangan, sama seperti yang dialami tokoh-tokoh lain. Sang sutradara menyebut, keputusan ini memang disengaja untuk mempertegas tema game kehilangan adalah bagian dari perjalanan hidup, dan dari situlah lahir kekuatan baru.

Keindahan Visual yang Menyihir

Selain kisah yang menyayat, Clair Obscur juga memukau lewat tampilannya. Dunia yang dibangun Sandfall Interactive memadukan estetika art deco dan baroque, menghadirkan suasana megah namun muram. Jalan-jalan Lumière terlihat seperti perpaduan Paris klasik dengan sentuhan surealis.

Detail visualnya begitu rinci hingga banyak kritikus menyebut game ini layak disejajarkan dengan karya seni. Bahkan ada yang menggambarkannya sebagai “lukisan bergerak” yang membuat pemain seolah berjalan di dalam kanvas hidup.

Kesuksesan yang Melampaui Ekspektasi

Meski digarap oleh tim kecil, game ini meraih kesuksesan besar. Dalam 12 hari pertama, penjualannya menembus 2 juta kopi, dan angka itu terus naik hingga lebih dari 3,3 juta hanya dalam 33 hari. Sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa kualitas narasi dan seni bisa menjadi daya tarik utama di tengah gempuran game aksi penuh efek.

Pujian pun mengalir deras. Situs-situs seperti Metacritic dan OpenCritic mencatat skor yang sangat tinggi, bahkan menjadikannya salah satu game dengan rating terbaik sepanjang masa. Tak hanya itu, pemerintah Prancis pun ikut memberi apresiasi, menyebutnya sebagai karya yang membanggakan bangsa.

Pesan Mendalam Kehilangan, Harapan, dan Cahaya Kecil

Meski penuh tragedi, Clair Obscur: Expedition 33 bukanlah kisah tentang putus asa. Justru di balik kegelapan, game ini mengajarkan tentang bagaimana manusia menemukan kekuatan dari kehilangan. Karakter seperti Esquie menjadi simbol harapan kecil pengingat bahwa bahkan dalam situasi terburuk, secercah cahaya bisa tetap hadir.

Kesimpulan

Clair Obscur Expedition 33 adalah bukti bahwa sebuah game bisa lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi karya seni, bisa menyentuh batin, dan bisa membuat pemain merenung tentang kehidupan, kehilangan, serta arti sebuah perjalanan.

Dengan visual menawan, narasi yang berani, dan karakter-karakter penuh warna, game ini berdiri sebagai salah satu RPG paling berkesan di era modern. Tidak berlebihan bila banyak yang menyebutnya sebagai permata langka dari dunia game indie sebuah kisah yang akan dikenang lama setelah layar padam.

Posted in
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai