Antara Kebersihan Ekosistem, Regulasi Global, dan Keamanan Pengguna

PLANETGAMES. Beberapa tahun lalu, ketika Anda membuka Google Play Store, mungkin terasa seperti memasuki pasar malam, ramai, penuh pilihan, tapi sering kali sulit menemukan yang benar-benar berkualitas. Ada aplikasi untuk segala hal mulai dari sekadar lampu senter, ratusan aplikasi wallpaper, hingga pembaca PDF yang nyaris tak punya fitur tambahan. Kini, suasana itu berubah. Play Store terlihat lebih rapi, lebih terkontrol, bahkan jumlah aplikasinya turun drastis.

Pertanyaan pun muncul kenapa Google mendadak jadi lebih ketat dalam mengatur Play Store? Mari kita bahas alasan-alasan di balik langkah besar ini.

Pembersihan Massal Dari 3,4 Juta Menjadi 1,8 Juta Aplikasi

Data mencatat, jumlah aplikasi yang tersedia di Play Store anjlok dari 3,4 juta (awal 2024) menjadi hanya 1,8 juta pada pertengahan 2025. Hampir separuhnya hilang dalam waktu kurang dari setahun.

Bukan karena bug, bukan pula karena pengembang bermalas-malasan memperbarui aplikasi. Penghapusan besar-besaran ini merupakan hasil strategi Google untuk menyaring konten.

Aplikasi yang dianggap “sampah digital” misalnya wallpaper statis, aplikasi PDF tanpa keunikan, atau program duplikat yang hanya mengganti nama dipangkas habis-habisan. Google ingin memastikan hanya aplikasi yang memberikan nilai nyata yang bertahan.

Bagi pengguna, ini berarti lebih sedikit “gangguan visual” dan lebih banyak aplikasi yang benar-benar bermanfaat. Bagi pengembang, artinya standar makin tinggi hanya karya berkualitas yang bisa bertahan di etalase digital tersebut.

Identitas Pengembang Harus Jelas

Kalau dulu pengembang bisa mengunggah aplikasi dengan identitas samar, kini tidak lagi. Mulai 2026, Google mewajibkan verifikasi identitas resmi, terutama bagi pengembang yang mendistribusikan aplikasi lewat jalur alternatif (sideload). Negara seperti Indonesia, Brasil, dan Thailand menjadi prioritas penerapan aturan ini.

Detail yang diminta pun cukup lengkap mulai dari nama asli, alamat, hingga kartu identitas resmi.

Mengapa begitu ketat? Karena banyak kasus pengembang “nakal” yang kabur dengan identitas palsu. Setelah aplikasinya terbukti berbahaya lalu diblokir, mereka kembali lagi dengan nama baru. Dengan sistem verifikasi, Google berharap bisa menutup celah tersebut.

Meski demikian, ada pengecualian untuk pengembang kecil atau pemula. Misalnya pelajar atau hobiis yang hanya ingin bereksperimen, tetap diberi ruang meski dengan batasan tertentu.

Tekanan Regulasi Global

Google juga tidak bisa bertindak semaunya. Mereka berada di bawah tekanan regulasi di berbagai negara.

  • Eropa
    Uni Eropa punya regulasi baru bernama Digital Markets Act (DMA). Salah satu tuntutannya: perusahaan raksasa harus membuka jalan bagi persaingan yang sehat. Google pun menyesuaikan kebijakan: komisi penjualan aplikasi diturunkan, pengembang boleh mengarahkan pengguna ke situs pribadi untuk pembayaran, dan ada sistem biaya alternatif yang lebih longgar.
  • Amerika Serikat
    Setelah kalah melawan Epic Games di pengadilan antitrust, Google diwajibkan membuka ekosistem Android. Artinya, sistem pembayaran alternatif harus diizinkan, tidak boleh ada praktik eksklusivitas yang menutup pesaing.

Dengan kata lain, sebagian “kekerasan aturan” yang kini kita rasakan di Play Store sebenarnya adalah dampak dari hukum dan regulasi internasional.

Perang Melawan Scam dan Malware

Play Store selama ini kerap jadi ladang subur bagi scam, mulai dari aplikasi berlangganan yang sulit dibatalkan (fleeceware) hingga spyware berkedok game.

Kini Google semakin tegas. Beberapa langkah nyata yang dilakukan:

  • Menetapkan aturan transparansi berlangganan. Biaya harus ditampilkan jelas, termasuk cara mudah membatalkannya.
  • Memperketat pemeriksaan aplikasi agar tidak ada malware yang lolos.
  • Menghapus jutaan aplikasi berbahaya lebih dari 2,3 juta aplikasi ditendang dari Play Store, dan 158 ribu akun pengembang bermasalah diblokir permanen.
  • Langkah ini bukan hanya menjaga reputasi Play Store, tapi juga melindungi pengguna yang kerap menjadi korban.

Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Jika dulu banyak pengembang sekadar membuat aplikasi “asal jadi” demi jumlah unduhan, kini Google membatasi jalannya.

Setiap aplikasi baru wajib menjalani uji coba terbatas dengan minimal 20 pengguna selama dua minggu. Tujuannya, memastikan aplikasi benar-benar berjalan baik sebelum publikasi massal.

Proses review aplikasi kini gabungan: otomatis oleh AI sekaligus manual oleh tim manusia. Ini membuat peluang aplikasi berbahaya atau sekadar copy-paste semakin kecil.

Dengan cara ini, Google berusaha menarik pengembang serius yang mau berinvestasi dalam kualitas, bukan sekadar ikut-ikutan membuat aplikasi baru.

Ringkasan, Apa Makna di Balik Kebijakan Baru Ini?

  • Kebersihan Konten: Aplikasi berkualitas rendah disingkirkan, Play Store jadi lebih rapi.
  • Keamanan: Malware, scam, dan aplikasi berlangganan “jebakan” makin sulit lolos.
  • Transparansi: Identitas pengembang lebih jelas, pengguna lebih terlindungi.
  • Kepatuhan Hukum: Google menyesuaikan diri dengan regulasi Eropa dan Amerika.
  • Ekosistem Sehat: Mendorong pengembang untuk berinovasi, bukan sekadar memenuhi kuantitas aplikasi.

Penutup

Keputusan Google memperketat aturan Play Store bukanlah langkah kecil. Ini adalah strategi besar yang menggabungkan kebutuhan bisnis, keamanan, dan regulasi global. Pengguna mendapat keuntungan berupa pengalaman yang lebih aman dan bersih, sementara pengembang ditantang untuk menghasilkan karya yang benar-benar bernilai.

Di masa depan, bisa jadi jumlah aplikasi di Play Store tidak akan sebanyak dulu. Namun, justru di situlah kualitas menjadi poin utama: lebih sedikit, tapi lebih relevan dan bermanfaat.

Posted in
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai